https://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/issue/feedJurnal Mitrasehat2026-05-31T13:00:08+08:00Muh. Hattalppm.stikmks@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Mitrasehat</strong> merupakan jurnal berkala ilmiah yang diterbitkan setiap tiga bulan sekali pada bulan <strong>Februari,</strong> <strong>Mei, Agustus</strong> dan <strong>November </strong>oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakata (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar sejak tahun 2011, dengan p-ISSN <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/1320899661" target="_blank" rel="noopener"><strong>2089-2551</strong></a> dan e-ISSN <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/1516079301" target="_blank" rel="noopener"><strong>2615-143X</strong></a>. Jurnal ini bekerjasama dengan Lembaga Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Pengurus Daerah Sulawesi Selatan dan Asosiasi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Regional XII Sulawesi. Fokus dan scope meliputi Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Keperawatan.</p>https://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/578PENGARUH PENYULUHAN KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI RISIKO BENCANA GEMPA BUMI MENGGUNAKAN METODE DISKUSI KELOMPOK TERHADAP PENGETAHUAN SISWA2026-05-29T12:57:38+08:00Nur Awaliahnurawaliah03g@gmail.comEndah Tri Wulandarinurawaliah03@gmail.comJoko Murdiyantonurawaliah03@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Indonesia wilayah yang sangat menarik karena terletak di antara tiga lempeng tektonik: lempeng Indo-Australia, lempeng eurasia, dan lempeng pasifik. Indonesia menjadi salah satu tempat yang paling sering terjadi bencana, terutama gempa bumi dan tsunami. Anak-anak merupakan salah satu kelompok yang paling rentan berisiko terkena dampak bencan, data menunjukkan bahwa banyak korban bencana adalah anak-anak usia sekolah, korban anak usia sekolah ini terjadi baik di dalam maupun di luar kelas, ini menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan awal tentang bencana.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana gempa bumi menggunakan metode diskusi kelompok terhadap pengetahuan pada siswa smp muhammadiyah I bambanglipuro.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Penelitian menggunakan desain pre eksperimental dengan rancangan <em>one-group pre-test post-test</em>. Jumlah responden 60 dengan teknik pengambilan sampel <em>total sampling. </em> Instrumen kuesioner kesiapsiagaan bencana gempa bumi .Analisis data menggunakan uji <em>wilcoxon </em><em>Match Pairs Test</em>.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Dalam penelitian ini mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 32 responden (53,3%), sedangkan responden laki-laki sebanyak 28 orang (46,7%). Terdapat peningkatan pada tingkat kesiapsiagaan setelah dilakukan penyuluhan dibuktikan dengan 0.000 (p < 0,05) berdasarkan uji <em>Wilcoxon</em><em> Match Pairs Test</em><em>.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Terdapat pengaruh penyuluhan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana gempa bumi menggunakan metode diskusi kelompok terhadap pengetahuan pada siswa smp muhammadiyah I bambanglipuro.</p>2026-05-28T13:12:16+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/678ATTITUDE TOWARD EXCLUSIVE BREASTFEEDING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BONTO BANGUN KABUPATEN BULUKUMBA2026-05-30T12:59:33+08:00Fairus Prihatin IdrisFairusprihatin.idris@umi.ac.idNaylah Hermannaylaherman177@gmail.comAndi Nirina R.J Diabnirinara1596@gmail.comAndi Asrinaandi.asrina@umi.ac.idHarpiana Rahmanharpianarahman@umi.ac.id<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan merupakan upaya fundamental dalam menjamin tumbuh kembang bayi, menjadi indikator penting dalam kesehatan ibu dan anak. Di wilayah kerja Puskesmas Bonto Bangun Kabupaten Bulukumba, ditemukan fenomena bahwa sikap ibu terhadap ASI eksklusif beragam dan tidak seluruh ibu berhasil menyusui secara eksklusif hingga enam bulan. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara sikap yang dimiliki ibu dan praktik pemberian ASI eksklusif.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Penelitian bertujuan menggali secara mendalam sikap ibu terhadap pemberian ASI eksklusif khususnya aspek sikap (attitude toward).</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Metode: </strong>Penelitian ini quasi kualitatif pendekatan fenomenologi. Informan: ibu yang memberikan ASI eksklusif, ibu yang tidak berhasil memberikan ASI eksklusif, suami, tenaga kesehatan. Pengumpulan data melalui focus group discussion, dan wawancara mendalam.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Penelitian menunjukkan bahwa ASI dipersepsikan sebagai hak anak, tanggung jawab moral ibu, serta wujud kasih sayang dan peran keibuan, namun pada sebagian ibu masih ditemukan keraguan yang dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, pengalaman menyusui sebelumnya, serta tekanan lingkungan sosial.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Keberhasilan ASI eksklusif dilakukan melalui pendekatan yang tidak hanya menekankan pembentukan sikap, tetapi juga penguatan dukungan sosial dan persepsi kontrol perilaku ibu agar praktik menyusui dapat berlangsung secara optimal dan berkelanjutan. Perlu penelitian untuk menjelaskan kesenjangan antara sikap dan praktik pemberian ASI Eksklusif.</p>2026-05-29T17:44:46+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/574HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KETERAMPILAN TRIAGE START PADA MAHASISWA UNTUK MENGHADAPI RISIKO BENCANA GEMPA BUMI2026-05-30T12:59:14+08:00Ferdy Firdausyferdyfirdausy15@gmail.comEndah Tri Wulandariferdyfirdausy15@gmail.comMuhajiferdyfirdausy15@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Pada 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter melanda Jawa Tengah dan Yogyakarta, menewaskan 4.626 orang, melukai 19.202, dan merusak hampir 93 ribu bangunan. Sekitar 1,2 juta jiwa terdampak langsung. Dalam situasi darurat seperti ini, penerapan triage START (Simple Triage and Rapid Treatment) sangat penting untuk memilah korban berdasarkan tingkat cedera, sehingga tenaga medis dapat menentukan prioritas penanganan secara cepat dan efisien di tengah keterbatasan sumber daya.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan:</strong> Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terhadap keterampilan triage START pada mahasiswa anestesiologi untuk menghadapi risiko bencana gempa bumi.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Metode:</strong> Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling jumlah sampel sebanyak 60 responden.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil:</strong> Penelitian menunjukkan uji korelasi dengan menggunakan spearman rank didapatkan nilai signifikansi (p-value) sebesar 0,000 < (0,05). Hasil nilai r 0,467. Mayoritas responden memiliki pengetahuan cukup sebanyak 32 responden (53,3%) sedangkan untuk keterampilan mayoritas mahasiswa memiliki keterampilan yang cukup terampil yaitu sebanyak 38 responden (63,3%).</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dan keterampilan triase START pada mahasiswa anestesiologi dalam menghadapi bencana gempa bumi. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa agar siap melakukan pertolongan pertama sesuai visi keunggulan kesehatan bencana dalam keperawatan anestesiologi.</p>2026-05-29T19:15:17+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/714GAMBARAN PENGGUNAAN APD DAN KELUHAN GANGGUAN KULIT PADA PETUGAS PENGELOLA SAMPAH DI TPA ANTANG MAKASSAR2026-05-30T12:58:57+08:00Iskandar Zulkarnaeniskandarzul43@gmail.comNurlelinurlelistikma@gmail.comDewi Purnama Windasaridewiepid@gmail.comHardiantihardianti@gmail.comAminullahaminullah@gmail.comMuh. Dzulkifli MNiskandarzul43@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Penggunaan alat pelindung diri (APD) merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah terjadinya penyakit akibat kerja, khususnya pada petugas pengelola sampah yang memiliki risiko tinggi terhadap paparan limbah, debu, cairan, dan mikroorganisme berbahaya. Lingkungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang lembab dan penuh kontaminan dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan, terutama gangguan kulit.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan alat pelindung diri (APD) dan keluhan gangguan kulit pada petugas di TPA Antang Kota Makassar.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Penelitian deskriptif dengan menggunakan teknik pengambilan sampel <em>accidental sampling</em><em>,</em> jumlah sampel sebanyak 50 responden, pengumpulan data menggunakan kuisioner.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak menggunakan APD secara lengkap yaitu sebanyak 34 responden (68%), sedangkan yang menggunakan APD lengkap sebanyak 16 responden (32%). Selain itu, sebagian besar responden mengalami keluhan gangguan kulit yaitu sebanyak 32 responden (64%), sedangkan 18 responden (36%) tidak mengalami keluhan.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Diharapkan petugas dapat meningkatkan penggunaan alat pelindung diri (APD) secara lengkap dan sesuai standar saat bekerja guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan, khususnya gangguan kulit akibat paparan langsung dengan sampah.</p>2026-05-29T19:36:22+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/664GAMBARAN GANGGUAN PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK BALITA USIA 12-24 BULAN DI PUSKESMAS MONCOBALANG2026-05-30T12:58:38+08:00Rusnaeni Saideneylasaid97@gmail.comNurjunnahnurjannah@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar Belakang:</strong> Perkembangan bahasa pada anak balita merupakan aspek krusial dalam membentuk dasar kemampuan kognitif dan sosial mereka. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami lingkungan sekitar, menyampaikan pikiran serta emosi, dan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan bahasa pada anak balita adalah peran orang tua. Orang tua, sebagai figur utama dalam kehidupan anak, memberikan pengaruh besar dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan kemampuan berbahasanya.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gangguan perkembangan bahasa pada anak balita usia 12–24 bulan.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Metode:</strong> Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, melibatkan 30 sampel yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan hasil pengisian kuesioner.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (53,3%) dan mayoritas berusia 22–24 bulan (43,3%). Perkembangan bahasa anak usia 12–24 bulan sebagian besar berada pada kategori abnormal, sedangkan perkembangan bahasa yang tergolong normal pada usia 15–24 bulan hanya sebesar 62,5%.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Diharapkan para ibu yang memiliki anak usia 12–24 bulan terus memberikan stimulasi yang tepat untuk mengoptimalkan perkembangan bahasa anak.</p>2026-05-29T20:26:50+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/683PERSEPSI REMAJA TERHADAP PERINGATAN KESEHATAN BERGAMBAR DI KOTA MAKASSAR2026-05-30T12:58:22+08:00Fairus Prihatin IdrisFairusprihatin.idris@umi.ac.idNurfaidahnurfaidah@gmail.comPatimanirinara1596@gmail.comHarpiana Rahmanharpianarahman@umi.ac.idAndi Asrinaandi.asrina@umi.ac.idMansur Sadidinaylaherman177@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Merokok pada remaja merupakan permasalahan Kesehatan masyarakat yang berdampak pada peningkatan risiko penyakit tidak menular.. Strategi pengendalian tembakau yang diterapkan pemerintah adalah Peringatan Kesehatan Bergambar <em>(Pictorial Health Warning) </em>pada kemasan rokok sebagai media komunikasi risiko berbasis visual. Namun, efektifitas pesan visual tersebut pada kelompok remaja masih menunjukkan variasi respons.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Bertujuan untuk menganalisis persepsi remaja terhadap peringatan Kesehatan bergambar pada kemasan rokok di Kota Makassar</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Penelitian ini quasi kualitatif dengan metode deskriptif. Informan berjumlah 11 orang yang terdiri dari satu informan kunci (Psikolog), 4 informan pendukung (Pakar media, guru, orang tua, dan kader kesehatan), serta 6 informan biasa (remaja berusia 19 – 22 tahun). Teknik pengumpulan data melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Terdapat perbedaan cara remaja memaknai Peringatan Kesehatan Bergambar (Pictorial Health Warning/PHW) pada kemasan rokok. Sebagian remaja memandang PHW sebagai peringatan mengenai bahaya merokok dan pada awalnya menunjukkan respons emosional seperti rasa takut dan ketidaknyamanan. Secara kognitif, remaja juga mampu mengaitkan gambar tersebut dengan potensi penyakit akibat merokok.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Keberhasilan pembentukan sikap anti – merokok pada remaja sangat bergantung pada kekuatan peran keluarga, serta perlu didukung oleh keterlibatan tokoh masyarakat yang lebih optimal agar pesan pencegahan memiliki daya pengaruh yang lebih kuat dan berkelanjutan.</p>2026-05-30T10:31:05+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/727DETERMINAN STATUS GIZI REMAJA SMP: STUDI KASUS JENIS KELAMIN, USIA, DAN INDIKATOR SOSIAL EKONOMI KELUARGA2026-05-30T12:58:03+08:00Andi Sani Silwanahsanisilwanah.publichealth@gmail.comNurlelinurleli@gmail.comJinny Graseliajinny.grasselia@gmail.comAndi Amal Saktiamal.sakti@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Remaja menghadapi tantangan beban ganda malnutrisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor determinan selama masa pertumbuhan pesat. Kondisi status gizi pada usia sekolah menengah pertama menjadi indikator penting bagi kesehatan di masa dewasa mendatang.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan status gizi remaja sekolah menengah pertama dengan memfokuskan pada pengaruh jenis kelamin, usia, dan indikator sosial-ekonomi keluarga.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Metode: </strong>Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional ini dilaksanakan di SMPN 52 Makassar. Sampel berjumlah 188 remaja yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran antropometri (IMT/U) dan pengisian kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki status gizi normal (63,8%), namun terdapat prevalensi overweight sebesar 21,3% dan gizi kurang sebesar 14,9%. Analisis bivariat mengungkapkan adanya hubungan signifikan antara jenis kelamin (p=0,012) dan usia (p=0,027) terhadap status gizi. Sebaliknya, indikator sosial-ekonomi keluarga berupa penghasilan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,985) terhadap status gizi remaja.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Jenis kelamin dan usia merupakan determinan utama status gizi remaja di SMPN 52 Makassar, sementara faktor ekonomi tidak lagi menjadi penentu dominan dalam fenomena transisi gizi di perkotaan.</p>2026-05-30T10:46:24+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/700PENGETAHUAN SISWA DAN SISWI TENTANG BAHAYA ASAP ROKOK TERHADAP KESEHATAN DI SMP NEGERI 17 MARUSU KABUPATEN MAROS2026-05-30T12:57:47+08:00Halmina Ilyashalminailyas@gmail.comIndra Gandiindragandi@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Merokok merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak terjadi di Indonesia, khususnya di kalangan remaja. Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, terdapat sekitar 70 juta perokok aktif, di mana 7,4% dari mereka berusia antara 10 hingga 18 tahun. Asap rokok berbahaya tidak hanya bagi mereka yang merokok, tetapi juga bagi mereka yang tidak.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Untuk memahami sejauh mana pengetahuan para siswa dan siswi di SMP Negeri 17 Marusu, Kabupaten Maros, mengenai dampak negatif asap rokok terhadap kesehatan.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Metode: </strong>Studi ini menerapkan metode kuantitatif melalui desain deskriptif. Populasi yang diteliti terdiri dari semua siswa SMP Negeri 17 Marusu yang berjumlah 404 orang. Dari populasi tersebut, sebanyak 80 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Alat penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang memiliki 20 pertanyaan pilihan benar atau salah mengenai bahaya asap rokok bagi kesehatan. Data dianalisis dengan cara univariat dan ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 59 responden (73,8%) memiliki tingkat pengetahuan tinggi mengenai bahaya asap rokok, sedangkan 21 responden (26,3%) memiliki tingkat pengetahuan rendah.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Sebagian besar siswa SMP Negeri 17 Marusu memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai dampak negatif asap rokok terhadap kesehatan.</p>2026-05-30T12:23:40+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/692MITIGASI TSUNAMI DI INDONESIA: LITERATUR REVIEW TENTANG STRATEGI DAN TEKNOLOGI2026-05-31T13:00:08+08:00Suradi Efendiatolnurse@gmail.comNour Sriyanahnoursriyanah@gmail.comAgnesia Nona Yoliagnesia.nona.yoli@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar Belakang: </strong>Indonesia merupakan negara yang terletak pada kawasan Cincin Api Pasifik, sehingga memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam, salah satunya adalah tsunami. Berbagai daerah di Indonesia telah mengalami dampak dahsyat dari bencana ini, sehingga dibutuhkan upaya mitigasi yang komprehensif dan berkelanjutan.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi dan implementasi mitigasi bencana tsunami berdasarkan hasil telaah terhadap 10 jurnal ilmiah terkini.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui analisis 10 artikel ilmiah terpilih yang berkaitan dengan strategi mitigasi tsunami di Indonesia.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Hasil kajian menunjukkan bahwa mitigasi dilakukan melalui pendekatan struktural (seperti pembangunan tempat evakuasi, pemecah ombak, penanaman mangrove) dan non-struktural (edukasi masyarakat, media pembelajaran, sistem peringatan dini). Penggunaan teknologi seperti pemodelan spasial, animasi edukatif, dan game interaktif juga terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Kesimpulan dari studi ini menunjukkan bahwa mitigasi tsunami memerlukan integrasi berbagai pendekatan, partisipasi aktif masyarakat, serta dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat guna.</p>2026-05-30T13:22:38+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/689HUBUNGAN LAMA KERJA DAN USIA DENGAN KELELAHAN KERJA PADA DRIVER GOJEK DI KOTA MAKASSAR2026-05-31T12:59:49+08:00Jufriadejufri8@gmail.comBasribasri@gmail.comSulaimansulaiman@gmail.comDina Maulina Syamsuldina.maulina@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Kelelahan merupakan kondisi yang dialami individu sebagai akibat dari interaksi faktor psikologis dan fisiologis. Keadaan ini ditandai dengan munculnya sensasi letih yang berlebihan, penurunan energi, serta kecenderungan mengantuk, yang umumnya dipicu oleh kurangnya waktu istirahat maupun aktifitas fisik yang berlansung secara terus-menerus.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Untuk menganalisis hubungan antara duarasi kerja dan usia dengan tingkat kelelahan kerja pada pengemudi gojek di Kota Makassar.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Metode: </strong>Pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik, adapun teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling, yang berjumlah 150 orang.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil</strong><strong>: </strong>Analisis mengenai hubungan antara durasi kerja dan tingkat kelelahan kerja menunjukkan bahwa berdasarkan uji Chi-Square diperoleh nilai x<sup>2 </sup>hitung = 1,612 <x<sup>2</sup> tabel = 2,706. Temuan ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lama kerja dan kelelahan kerja. Selanjutnya, analisis hubungan antara usia dan kelelahan kerja juga memperlihatkan bahwa nilai x<sup>2 </sup>hitung = 2,915 <x<sup>2</sup> tabel = 3,841.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara duarsi kerja dan usia dengan Tingkat kelelahan kerja pada pengemudi gojek di Kota Makassar. Disarankan kepada para pengemudi gojek untuk lebih memperhatikan pengaturan waktu kerja agar tidak berlangsung secara menoton dan berkepanjangan, serta memastikan adanya waktu istirahat yang memadai.</p>2026-05-30T13:47:29+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/680EKSPLORASI FAKTOR RISIKO KEJADIAN INFEKSI SOIL-TRANSMITTED HELMINTHS PADA PETANI SAYUR DI DESA KANREAPIA KABUPATEN GOWA2026-05-31T12:59:33+08:00Habibihabibi.abdulkarim@uin-alauddin.ac.idDinidinhy1702@gmail.comMuhammad Rusminhabibi.abdulkarim@uin-alauddin.ac.idBs Titi Haeranatitihaerana@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong><em>Soil Transmitted Helminths </em>(STH) merupakan penyakit yang dapat menyebabkan malnutrisi, kehilangan darah, dan penurunan produktivitas fisik. Hal ini dapat terjadi karena petani sering bersentuhan langsung dengan tanah yang mengakibatkan mereka rentan terinfeksi STH.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Untuk mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi STH pada Petani Sayur di Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analitik dan desain <em>cross-sectional. </em>Besar sampel dihitung menggunakan rumus estimasi proporsi dengan derajat kesalahan 10%, sehingga diperoleh 90 petani sayur. Sampel dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Berdasarkan hasil penelitian terhadap 90 responden, ditemukan bahwa 6 orang (6,7%) terinfeksi STH. Analisis menggunakan uji <em>Fisher Exact</em> menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara beberapa faktor yang diteliti dengan kejadian infeksi STH, meliputi tingkat pengetahuan (p=0,416), sikap (p=0,662), tindakan (p=0,085), penggunaan alas kaki (p=0,585), kebiasaan mencuci tangan (p=0,085), kebersihan kuku (p=0,685), serta penggunaan sarung tangan (p=1,000).</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Temuan penelitian ini mengindikasikan perlunya upaya dari pemerintah untuk memperkuat program edukasi guna meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai STH, khususnya terkait pentingnya konsumsi obat cacing secara rutin. Selain itu, petani sayur diharapkan lebih memperhatikan praktik kebersihan diri, baik saat bekerja maupun dilingkungan rumah, sebagai langkah pencegahan untuk menekan risiko penularan infeksi STH.</p>2026-05-30T14:39:28+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/733FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS KADATUA TIMUR KABUPATEN BUTON SELATAN2026-05-31T12:59:15+08:00Budi Prasetyons.budiprasetyo@gmail.comNining Friantinining.frianti9@gmail.comMuhamad Ikhsanmuhammadikhsan90@gmail.comAhmad Noorahmad.marenda@gmail.comWa Ode Nursyuhadasyuhada12345678@gmail.comLa Ode Kiflinlaodekiflin01@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius pada balita karena dapat menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian, terutama di wilayah kerja Puskesmas. Riwayat penyakit kronis, <em>personal hygiene</em>, dan sanitasi dapat memicu terjadinya diare.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Kadatua Timur, Kabupaten Buton Selatan.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional. </em>Sampel terdiri dari 193 ibu yang memiliki anak balita, dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan uji <em>chi-square.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Ada hubungan riwayat penyakit kronis dengan kejadian diare dengan nilai ρ = 0,000, ada hubungan <em>personal hygiene </em>ibu dengan kejadian diare dengan nilai ρ = 0,006, dan ada hubungan sanitasi dasar rumah dengan kejadian diare pada balita dengan nilai ρ = 0,003 di Puskesmas Kadatua Timur.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Ada hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit kronis, <em>personal hygiene </em>dan sanitasi dasar rumah dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Kadatua Timur, Kabupaten Buton Selatan. Disarankan kepada orang tua balita untuk menjaga personal hygiene dan sanitasi dasar rumah secara baik serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin bagi balita yang memiliki riwayat penyakit kronis guna mencegah terjadinya diare.</p>2026-05-30T15:34:04+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/734PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI MENGENAI PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI)2026-05-31T12:58:58+08:00Wa Ode Nursyuhadasyuhada12345678@gmail.comBudi Prasetyons.budiprasetyo@gmail.comSri Nurliannurliansri2@gmail.comHaslinahaslinacaca@gmail.comRina Inda Saribidanrinaindasari@gmail.comYeni Yulianayeniyuliard@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Kanker payudara menduduki peringkat tertinggi dalam angka kejadian dan kematian pada perempuan di seluruh dunia. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) merupakan cara termudah untuk mendeteksi kelainan pada ukuran, tekstur, serta bentuk payudara. Pemeriksaan payudara membantu deteksi dini kanker payudara, sehingga mengurangi risiko keparahannya.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri mengenai pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di SMA Negeri 4 Kota Baubau.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Jenis penelitian menggunakan desain <em>quasi eksperiment </em>dengan rancangan<em> one-group pretest-posttest design</em>. Sampel terdiri dari 84 siswi kelas XI tahun 2024, dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tentang pengetahuan dan sikap remaja putri mengenai pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Selanjutnya, data dianalisis menggunakan uji <em>Wilcoxon.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan remaja putri mengenai pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dengan nilai ρ = 0,000 < 0,05. Selanjutnya, ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap sikap remaja putri mengenai pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), dengan nilai ρ = 0,000 < 0,05.</p> <p style="text-align: justify;"> <strong>Kesimpulan: </strong>Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri mengenai pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Pihak sekolah disarankan untuk bekerja sama dengan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi SADARI secara berkala kepada remaja putri.</p>2026-05-30T15:50:11+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/690GAMBARAN PERILAKU PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PADA KARYAWAN PT. MARUKI INTERNATIONAL INDONESIA2026-05-31T12:58:39+08:00Andi Tenriola Fitri Kessiatenriolafky@gmail.comHelmi Ganihelmi.gani@gmail.comArni Julianiarnhi.juliani@gmail.comRistnia Jayanti Maahuryristaniajayantimaahury@gmail.com<p><strong>Latar belakang: </strong>Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sangat penting untuk melindungi pekerja dan individu dari bahaya dan risiko yang mungkin muncul di lingkungan kerja atau tempat kerja yang berbahaya.</p> <p><strong>Tujuan: </strong>Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran perilaku penggunaan alat pelindung diri (APD) pada karyawan PT. Maruki International Indonesia.</p> <p><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah Karyawan PT. Maruki International Indonesia sebanyak 62 responden.</p> <p><strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukan sikap responden terhadap penggunaan alat pelindung diri pada saat bekerja paling banyak pada kategori baik. Pengetahuan responden terhadap penggunaan alat pelindung diri pada saat bekerja paling banyak pada pengetahuan yang baik.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Tindakan responden terhadap penggunaan alat pelindung diri saat bekerja paling banyak pada kategori tidak lengkap. Disarankan dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan pihak manajemen PT. Maruki International Indonesia hendaknya harus lebih meningkatkan pengawasan dalam penggunaan alat pelindung diri pada pekerja.</p>2026-05-30T20:51:04+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehathttps://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/691GAMBARAN PERILAKU SISWA DALAM PENCEGAHAN KECELAKAAN DI LINGKUNGAN SD INPRES BORONG JAMBU II2026-05-31T12:58:22+08:00Muhammad Hattamuhhatta772@gmail.comBasribasrikesmas@gmail.comNurhananurhana@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Kecelakaan di sekolah merupakan salah satu penyebab cedera paling sering pada anak usia sekolah. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI (2018), sekitar 65,9% anak usia 5–14 tahun mengalami cedera ringan hingga sedang, seperti terjatuh, terkilir, atau luka lecet, yang sebagian besar terjadi di lingkungan sekolah.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>bertujuan menggambarkan pengetahuan, sikap, dan tindakan siswa dalam pencegahan kecelakaan di SD Inpres Borong Jambu II.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 60 siswa kelas V yang diambil dengan teknik total sampling.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel pengetahuan, sebagian besar siswa berada pada kategori cukup yaitu sebanyak 57 siswa (95%), dan kategori kurang sebanyak 3 siswa (5%). Pada variabel sikap, sebagian besar siswa memiliki sikap positif yaitu 55 siswa (91,7%), sedangkan 5 siswa (8,3%) bersikap negatif. Pada variabel tindakan, sebagian besar siswa menunjukkan tindakan positif yaitu 53 siswa (88,3%), dan 7 siswa (11,7%) menunjukkan tindakan negatif.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>disimpulkan bahwa pengetahuan, sikap, dan tindakan siswa terhadap keselamatan di sekolah tergolong baik secara keseluruhan, namun masih diperlukan peningkatan edukasi dan pembiasaan perilaku aman. Guru diharapkan dapat memperkuat pemahaman siswa melalui kegiatan simulasi, penyuluhan, dan keteladanan perilaku aman di lingkungan sekolah.</p>2026-05-30T22:30:53+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehat