Jurnal Mitrasehat
https://journal.stikmks.ac.id/index.php/a
<p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Mitrasehat</strong> merupakan jurnal berkala ilmiah yang diterbitkan setiap tiga bulan sekali pada bulan <strong>Februari,</strong> <strong>Mei, Agustus</strong> dan <strong>November </strong>oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakata (LP2M) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar sejak tahun 2011, dengan p-ISSN <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1320899661" target="_blank" rel="noopener"><strong>2089-2551</strong></a> dan e-ISSN <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1516079301" target="_blank" rel="noopener"><strong>2615-143X</strong></a>. Jurnal ini bekerjasama dengan Lembaga Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Pengurus Daerah Sulawesi Selatan dan Asosiasi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Regional XII Sulawesi.</p> <p style="text-align: justify;">Jurnal ini menerima tulisan ilmiah berupa laporan penelitian (<em>original article research paper) </em>dan hasil-hasil pemikiran ilmiah dengan fokus dan scope meliputi <strong>Ilmu Kesehatan Masyarakat</strong> yakni Epidemiologi, Biostatistik, Pendidikan dan Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Administrasi Kebijakan Kesehatan, Manajemen Rumah Sakit, Gizi Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Reproduksi serta <strong>Ilmu Keperawatan</strong> yakni Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Anak, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Manajemen, Keperawatan Komunitas, Keluarga dan Keperawatan Gerontik.</p>LPPM STIK Makassaren-USJurnal Mitrasehat2089-2551PERBEDAAN PARAMETER HEMODINAMIK PADA PEMASANGAN LMA DAN ETT DENGAN ANESTESI UMUM DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
https://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/572
<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Pemasangan <em>laryngeal mask airway</em> (LMA) dan <em>endotracheal tube</em> (ETT) dalam anestesi umum dapat memicu respons simpatis yang berpengaruh pada perubahan parameter hemodinamik seperti tekanan darah dan denyut jantung.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Mengetahui perbedaan parameter hemodinamik pasien selama pemasangan <em>laryngeal mask airway </em>(LMA) dan <em>endotracheal tube</em> (ETT) dengan anestesi umum di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em>. Penelitian ini melibatkan pasien yang menjalani anestesi umum dengan pemasangan LMA dan ETT sebagai sampel. Sampel diperoleh menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>, data dikumpulkan melalui lembar observasi dengan mencatat tekanan darah dan denyut jantung sebelum dan setelah pemasangan alat jalan napas. Data dianalisis menggunakan uji <em>Mann-Whitney.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Terdapat perbedaan signifikan pada tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, dan denyut jantung antara kelompok LMA dan ETT sebelum maupun setelah pemasangan alat jalan napas (p < 0,05). Nilai signifikansi untuk tekanan darah sistolik adalah 0,033 (sebelum) dan 0,004 (sesudah), serta untuk tekanan darah diastolik sebesar 0,000 (sebelum) dan 0,000 (sesudah). Sementara itu, denyut jantung menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,008 sebelum pemasangan dan 0,000 setelah pemasangan.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Terdapat perbedaan signifikan parameter hemodinamik antara pemasangan LMA dan ETT pada pasien anestesi umum.</p>Putri Komalasari RumodarJoko MurdiyantoEndah Tri Wulandari
Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehat
2026-02-102026-02-1016111010.51171/jms.v16i1.572PERAN PEMERINTAH KALURAHAN PARANGTRITIS DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS KELOMPOK RENTAN DALAM PERSIAPAN MENGHADAPI BENCANA GEMPA BUMI
https://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/577
<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi, terutama gempa bumi. Kalurahan Parangtritis, yang berada di Kabupaten Bantul, DIY, merupakan salah satu wilayah rawan gempa karena lokasinya dekat dengan zona subduksi dan Samudera Hindia. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas menjadi pihak paling terdampak dalam bencana.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Untuk mengetahui program yang dilakukan Pemerintah Kalurahan Prangtritis untuk meningkatkan kapasitas kelompok rentan dalam menghadapi gempa bumi.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Penelitian ini menggunakan metode kualitatif teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Populasi sampel yaitu RT, Dukuh, anggota kantor Kalurahan, dan FPRB. Peneliti menentukan informan secara acak berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditentukan. Informan dalam penelitian ini berjumlah 7 orang.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Penelitian ini menghasilkan empat tema, yaitu tema I: konsep bencana, tema II: mitigasi bencana, tema III: kesiapsiagaan masyarakat, tema IV: tanggap darurat bencana, tema V: evaluasi pasca bencana. Informan dalam penelitian ini menggambarkan bencana itu ada gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor, abrasi, kekeringan, kebakaran, dan kecelakan.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Pemerintah melakukan upaya sosialisasi, pelatihan, pendidikan yang diberikan pada masyarakat dan kelompok rentan, serta pada anak anak sejak dari dini. Selain itu adanya koordinasi dan evaluasi dengan beberapa instansi dan juga dengan kelompok lain pada saat mitigasi ataupun pada saat terjadi bencana gempa bumi.</p>Muhaimin JazaliEndah Tri WulandariJoko Murdiyanto
Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehat
2026-02-102026-02-10161112510.51171/jms.v16i1.577STUDI KASUS: MANAJEMEN AIRWAY PASIEN RIWAYAT MEROKOK PADA OPEN REDUCTION INTERNAL FIXATION DENGAN ANESTESI UMUM
https://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/571
<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Tingginya prevalensi merokok pada pasien yang menjalani tindakan <em>Open Reduction Internal Fixation</em> (ORIF) dengan anestesi umum meningkatkan risiko gangguan jalan napas, sehingga diperlukan manajemen <em>airway</em> yang tepat untuk mencegah komplikasi dan menjaga keselamatan pasien.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Untuk mengetahui manajemen <em>airway</em> pasien riwayat merokok yang dilakukan <em>Open Reduction Internal Fixation </em>(ORIF) menggunakan anestesi umum di RSUD Sleman.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan <em>multiple case study</em>, melibatkan tiga pasien dengan riwayat merokok yang menjalani tindakan <em>Open Reduction Internal Fixation</em> (<em>ORIF</em>) dengan anestesi umum di RSUD Sleman, yang dipilih menggunakan teknik <em>nonprobability sampling</em> dengan metode <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi menggunakan format pengkajian asuhan kepenataan anestesi sesuai standar IPAI sebagai instrumen utama, serta didukung data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien. Analisis data dilakukan melalui <em>individual case analysis</em> dan <em>cross case analysis</em>.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen<em> airway</em> menggunakan LMA pada tiga pasien dengan riwayat merokok yang menjalani <em>Open Reduction Internal Fixation</em> (ORIF) dengan anestesi umum berhasil mengatasi risiko anestesi, termasuk kesulitan intubasi, gangguan respirasi dan kardiovaskular, serta kegawatan jalan napas pasca operasi, dengan hasil akhir kondisi vital stabil dan jalan napas paten.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Manajemen airway pada pasien dengan riwayat merokok yang menjalani prosedur <em>Open Reduction Internal Fixation</em> (ORIF) dengan anestesi umum efektif melalui penggunaan <em>Laryngeal Mask Airway</em> (LMA).</p> <p style="text-align: justify;"> </p>Maretha Asih RossianaNia HandayaniEndah Tri Wulandari
Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehat
2026-02-102026-02-10161264210.51171/jms.v16i1.571PENGARUH ROLEPLAY BERBASIS GAME BANTUAN HIDUP DASAR TERHADAP PENGETAHUAN SISWA SMA MUHAMMADIYAH 1 BANTUL
https://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/570
<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Indonesia termasuk wilayah dengan risiko gempa tinggi. Kurangnya pengetahuan remaja tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) memperparah dampak bencana. SMA Muhammadiyah 1 Bantul belum pernah mendapatkan pelatihan BHD secara langsung.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Mengetahui pengaruh <em>roleplay </em>berbasis<em> game</em> terhadap peningkatan pengetahuan siswa tentang BHD dalam menghadapi risiko gempa.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Desain penelitian <em>pra-eksperimental</em> dengan rancangan <em>one-group pretest-posttest</em>. Sampel 152 siswa kelas X dan XI dipilih dengan <em>stratified random sampling</em>. Intervensi berupa edukatif dan roleplay game BHD. Instrumen menggunakan kuesioner pengetahuan yang sudah valid dan reliabel. Uji statistik menggunakan <em>Wilcoxon Signed Ranks Test</em>.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Terdapat peningkatan signifikan (p < 0,05) pada pengetahuan siswa setelah intervensi. Sebelum intervensi, pengetahuan siswa berada pada kategori rendah hingga sedang, meningkat menjadi cukup hingga baik setelah intervensi.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Roleplay berbasis game efektif meningkatkan pengetahuan siswa tentang BHD. Sekolah disarankan mengintegrasikan kegiatan <em>roleplay </em>berbasis<em> game</em> secara rutin dalam kurikulum atau program mitigasi bencana. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan model <em>intervensi</em> yang lebih terstruktur serta menilai aspek keterampilan <em>psikomotorik</em> BHD secara langsung.</p>Salsabilla Felicia RiyantiEndah Tri WulandariAisyah Nur Azizah
Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehat
2026-02-102026-02-10161434810.51171/jms.v16i1.570DETERMINASI PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK PADA PENGRAJIN BATU BATA: STUDI EPIDEMIOLOGI DI KABUPATEN GOWA
https://journal.stikmks.ac.id/index.php/a/article/view/621
<p style="text-align: justify;"><strong>Latar belakang: </strong>Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu masalah kesehatan akibat paparan polusi udara di lingkungan kerja, termasuk pada sektor informal seperti industri pembuatan batu bata merah.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan berpengaruh terhadap risiko PPOK pada pengrajin batu bata merah di Dusun Borongrappoa, Kabupaten Gowa.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Met</strong><strong>ode: </strong>Menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei tahun 2025 di industri rumahan batu bata merah Dusun Borongrappoa Desa Romanglasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Populasi dalam penelitian ini adalah pengrajin batu bata merah dan sampel sebanyak 140 responden yang diambil menggunakan Teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi berusia > 17 tahun, telah bekerja minimal 1 tahun dan tidak sedang dalam keadaan sakit pada saat pengukuran.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Hasil: </strong>Hasil uji bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara usia (p=0,006), jenis kelamin (p=0,038), masa kerja (p=0,037), durasi kerja (p=0,030), riwayat penyakit paru (p=0,001), dan penggunaan masker (p=0,036) dengan risiko PPOK. Kebiasaan merokok tidak menunjukkan hubungan bermakna (p=0,206).</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong>Terdapat hubungan signifikan pada usia, jenis kelamin, masa kerja, durasi kerja, riwayat penyakit paru, dan penggunaan masker pada risiko PPOK pada pengrajin batu bata merah. Serta tidak terdapat hubungan yang signifikan kebiasaan merokok dengan risiko PPOK pada pengrajin batu bata merah. </p>HabibiNur Fadiyah PutriEmmi BujawatiNildawati
Copyright (c) 2026 Jurnal Mitrasehat
2026-02-102026-02-10161496110.51171/jms.v16i1.621