https://journal.stikmks.ac.id/index.php/b/issue/feedJurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)2026-08-15T20:06:14+08:00Muh. Hattalppm.stikmks@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT) </strong>merupakan Jurnal Pengabdian Masyarakat yang diterbitkan setiap enam bulan sekali pada bulan <strong>Januari </strong>dan <strong>Agustus </strong>oleh Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar sejak tahun 2018, dengan p-ISSN <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/1530677999" target="_blank" rel="noopener"><strong>2621-8364</strong></a> dan e-ISSN <a href="https://issn.perpusnas.go.id/terbit/detail/1530680621" target="_blank" rel="noopener"><strong>2623-1972</strong></a>. Fokus dan scope meliputi Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Keperawatan.</p>https://journal.stikmks.ac.id/index.php/b/article/view/732CEGAH STUNTING MELALUI PERMAINAN TEBAK GAMBAR CTPS PADA ANAK DI SD NEGERI 171 LOMPO BARU2026-08-15T10:13:39+08:00Andi Ayumarandiayumar@gmail.comSuarnisuarni@gmail.comJufriadejufri@gmail.comAndi Yulia Kasmaayulia.kasma@gmail.comAulia Aryani Purnama Sariaulia_aryani@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong><em>Latar belakang:</em></strong><em> Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) merupakan perilaku hidup bersih yang sangat penting dalam mencegah penularan penyakit seperti diare, ISPA, dan infeksi lainnya. Namun, masih banyak siswa sekolah dasar yang belum memahami langkah CTPS yang benar dan waktu-waktu penting melakukannya, sehingga diperlukan edukasi yang mampu meningkatkan kesadaran dan keterampilan mereka.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Tujuan:</em></strong><em> Kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan edukasi CTPS serta melihat peningkatan pengetahuan dan praktik siswa mengenai cuci tangan yang benar sebagai upaya pencegahan penyakit berbasis lingkungan.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Metode: </em></strong><em>Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan interaktif, demonstrasi tujuh langkah CTPS, permainan edukatif tebak gambar, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Hasil:</em></strong><em> Pengetahuan siswa meningkat setelah penyuluhan, di mana sebelum kegiatan 64,5% berada pada kategori cukup dan 35,5% kurang, sedangkan setelah penyuluhan seluruh siswa (100%) berada pada kategori cukup.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Kesimpulan:</em></strong><em> Edukasi CTPS terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku cuci tangan siswa sekolah dasar. Kegiatan ini dapat digunakan sebagai strategi promotif untuk mendukung kebiasaan hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah.</em></p> <p style="text-align: justify;"> </p>2026-08-15T10:13:16+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)https://journal.stikmks.ac.id/index.php/b/article/view/750CACING SIRNA: MODEL EDUKASI INTERAKTIF DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN PRAKTIK PENCEGAHAN KECACINGAN PADA SISWA SDN 63 TOMBOLO2026-08-15T10:47:02+08:00Chitra Dewiepidemiologi165@gmail.comNurfitrins.nurfitri@gmail.comMuhammad Syahrirsyahrirnganro@gmail.comAndi Tilka Muftiah Ridjaltilka.muftiah@unm.ac.idRenaldi. Mrenaldimumar11@gmail.comHusnul Arbma Burhanstikmakassar1998@gmail.com<p><strong><em>Latar belakang:</em></strong> <em>Infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH) atau kecacingan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang banyak terjadi pada anak usia sekolah akibat rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat. Edukasi kesehatan yang interaktif diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan praktik pencegahan kecacingan sejak dini.</em></p> <p><strong><em>Tujuan:</em></strong> <em>Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan praktik pencegahan kecacingan pada siswa sekolah dasar melalui model edukasi interaktif <strong>CACING SIRNA (Cacing Hilang, Anak Sehat dan Gembira)</strong>.</em></p> <p><strong><em>Metode:</em></strong> <em>Pengabdian dilaksanakan di SDN 63 Tombolo dengan melibatkan 10 siswa menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif. Kegiatan meliputi pre-test, penyampaian materi, permainan edukatif, demonstrasi cuci tangan pakai sabun, simulasi perilaku hidup bersih dan sehat, kuis interaktif, serta post-test untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan peserta.</em></p> <p><strong><em>Hasil:</em></strong> <em>Program menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa, ditandai dengan meningkatnya kategori pengetahuan baik dari 30% pada pre-test menjadi 70% pada post-test, sedangkan kategori pengetahuan rendah menurun dari 20% menjadi 10%. Selain itu, siswa menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan kuku, menggunakan alas kaki, dan mengonsumsi obat cacing secara berkala.</em></p> <p><strong><em>Kesimpulan:</em></strong> <em>Model edukasi interaktif <strong>CACING SIRNA</strong> efektif meningkatkan pengetahuan dan praktik pencegahan kecacingan pada siswa sekolah dasar serta berpotensi direplikasi sebagai inovasi edukasi kesehatan berbasis sekolah.</em></p>2026-08-15T10:47:01+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)https://journal.stikmks.ac.id/index.php/b/article/view/762SKRINING KESEHATAN DAN EDUKASI PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA LANSIA2026-08-15T11:26:40+08:00Muhammad Sahlan Zamaasahlan_nersuh@yahoo.comAndi Aridhasari Sudirmanandiaridhasarisudirman@unismuh.ac.idSitti Zakiyyah Putrizakiyyah@unismuh.ac.idRahmawatirahmawati01@unismuh.ac.idSitti Maryam Bachtiarsittimaryam.bachtiar@yahoo.comFitria Hasanuddinfitria.hasanuddin@unismuh.ac.idAbdul Halimabdul.halim@unismuh.ac.id<p style="text-align: justify;"><strong><em>Latar belakang:</em></strong><em> Lansia merupakan individu dengan umur minimal 60 tahun. Saat ini, negara Indonesia mengalami perubahan demografi dimana jumlah lansia melebihi jumlah penduduk usia anak-anak (balita). Seiring bertambahnya usia, lansia mengalami berbagai penurunan fungsi fisiologis tubuh yang menyebabkan lansia rentan terkena berbagai penyakit. </em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Tujuan:</em></strong><em> Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan skrining kesehatan dan meningkatkan pengetahuan lansia melalu edukasi penyakit tidak menular.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Metode:</em></strong><em> Kegiatan ini dilakukan di Pustu Puskesmas Mamajang, dimulai dengan pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, asam urat, serta tinggi dan berat badan. Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian edukasi penyakit tidak menular. </em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Hasil: </em></strong><em>Kegiatan ini diikuti oleh 18 peserta, dimana sebagian peserta terdeteksi menderita penyakit hipertensi, mengalami masalah gizi (kurus, overweight dan obesitas), peningkatan kolesterol dan asam urat.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Kesimpulan:</em></strong><em> Kegiatan skrining kesehatan harus dilakukan secara rutin dalam mendeteksi secara dini berbagai masalah kesehatan potensial yang dapat terjadi pada lansia. Pemberian edukasi diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi lansia dalam rangka mencapai derajat kesehatan maksimal.</em></p>2026-08-15T11:26:40+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)https://journal.stikmks.ac.id/index.php/b/article/view/764PROGRAM SEKOLAH SIAGA BENCANA GEMPA BUMI DI SD NEGERI 208 LEMBANG2026-08-15T19:42:07+08:00Sri Syatrianisyatrianisri@gmail.comJufriadejufri@gmail.comNovia Dwi Aprillianovia.dwi@gmail.comMustaminmustamin@gmail.comAprianus Yoalaprianus.yoal@gmail.comSri Musfira Septisri.musfira@gmail.comAliya Damayantialiya.damayanti@gmail.comCalvina Alsadila Parmacalvina.alsadila@gmail.comNur Annishanur.annisha@gmail.com<p style="text-align: justify;"><strong><em>Latar belakang: </em></strong><em>Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, khususnya gempa bumi, sehingga diperlukan upaya mitigasi sejak dini melalui pendidikan kebencanaan di lingkungan sekolah. Sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk kesiapsiagaan siswa terhadap potensi bencana.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Tujuan: </em></strong><em>Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang Sekolah Siaga Bencana Gempa Bumi melalui penyuluhan dan simulasi di SDN No. 208 Lembang.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Metode: </em></strong><em>Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif yang melibatkan 45 siswa. Intervensi dilakukan melalui pemberian pre-test, penyampaian materi menggunakan media power point dan video edukasi, pengenalan rambu evakuasi, simulasi penyelamatan diri dengan metode Drop, Cover, and Hold On, serta pemberian post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Hasil: </em></strong><em>Hasil pre-test menunjukkan 28 siswa (62,2%) berada pada kategori pengetahuan cukup dan 17 siswa (37,8%) pada kategori kurang. Setelah intervensi, hasil post-test menunjukkan peningkatan menjadi 43 siswa (95,6%) pada kategori cukup dan hanya 2 siswa (4,4%) pada kategori kurang. Terjadi peningkatan sebesar 33,4% atau sebanyak 15 siswa.</em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Kesimpulan: </em></strong><em>Penyuluhan Program Sekolah Siaga Bencana Gempa Bumi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa. Kegiatan ini berpotensi menjadi strategi berkelanjutan dalam upaya mitigasi bencana di lingkungan sekolah dasar.</em></p>2026-08-15T19:35:26+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)https://journal.stikmks.ac.id/index.php/b/article/view/766EDUKASI ANEMIA PADA REMAJA PUTRI WUJUD GENERASI SEHAT DAN CERDAS2026-08-15T20:06:14+08:00Aminullahaminullah.makasar@gmail.comIrwanaminullah.makasar@gmail.comIskandar Zulkarnaenaminullah.makasar@gmail.comHelsyah Dharma Wicaksanaaminullah.makasar@gmail.com<p><strong><em>Latar belakang:</em></strong><em> Anemia masih menjadi masalah kesehatan dominan pada remaja putri dan berdampak pada kemampuan belajar, kebugaran, serta risiko komplikasi kehamilan di masa depan. Rendahnya pengetahuan dan perilaku pencegahan berkontribusi pada tingginya kasus anemia di kelompok ini.</em></p> <p><strong><em>Tujuan:</em></strong><em> Menilai efektivitas penyuluhan tentang anemia dalam meningkatkan pengetahuan remaja putri di Mts DDI Tengapadange.</em></p> <p><strong><em>Metode:</em></strong><em> Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan kesehatan dengan desain pre dan post-test. Sebanyak 12 siswi mengikuti intervensi dan mengisi kuesioner sebelum serta setelah penyuluhan. Data dianalisis untuk melihat perubahan pengetahuan.</em></p> <p><strong><em>Hasil:</em></strong><em> Sebelum penyuluhan, 75% peserta memiliki pengetahuan cukup dan 25% berada pada kategori kurang. Setelah intervensi, seluruh peserta (100%) mencapai kategori pengetahuan cukup-baik. Peningkatan ini menunjukkan intervensi edukasi berjalan efektif.</em></p> <p><strong><em>Kesimpulan:</em></strong><em> Penyuluhan tentang anemia terbukti efektif menambah pengetahuan remaja perempuan terkait bahaya anemia dan cara pencegahannya. Intervensi serupa perlu dilanjutkan secara berkelanjutan untuk memperkuat perubahan perilaku sehat</em></p>2026-08-15T20:06:14+08:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)